Manadoberita.com — Sepak bola internasional tengah di ambang krisis terbesar dalam sejarah modern menyusul langkah tegas yang diambil oleh Persatuan Sepak Bola Eropa (UEFA).
Seluruh konfederasi elite dunia kini secara terbuka menyatakan perlawanan terhadap rencana kepemimpinan tertinggi sepak bola global.
UEFA secara resmi memutuskan akan memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila rencana penjualan kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta tetap diteruskan. Keputusan tersebut diambil dalam rapat darurat yang digelar pada Kamis.
Gerakan penolakan masif ini bermula ketika seluruh 55 anggota UEFA sepakat menolak proposal yang digagas oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Mereka menegaskan sikap tegas untuk tidak akan mengikuti seluruh kompetisi FIFA selama rencana kontroversial tersebut belum dibatalkan sepenuhnya.
Gelombang penolakan ini tak berhenti di daratan Eropa. Langkah berani UEFA dengan cepat diikuti oleh Concacaf.
Konfederasi yang menaungi wilayah sepak bola Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia itu turut melayangkan keberatan serupa atas proposal bisnis yang diajukan FIFA.
Berdasarkan laporan ESPN, implikasi dari keputusan kolektif UEFA ini sangat masif.
Negara-negara raksasa sepak bola dunia seperti Jerman, Inggris, Prancis, hingga sang juara dunia Spanyol dipastikan tidak akan tampil di ajang Piala Dunia, baik di sektor putra maupun putri, selama proposal kepemilikan swasta dari FIFA masih berlaku.
Dalam rilis pernyataan resminya, UEFA menegaskan kembali bahwa seluruh asosiasi anggotanya tidak akan berpartisipasi di kompetisi FIFA.
Sikap keras kepala ini diambil murni sebagai bentuk perlawanan terhadap rencana komersialisasi dengan menjual sebagian kepemilikan turnamen akbar sejagat kepada pihak investor swasta.
Selepas menggelar forum rapat terpisah, pihak Concacaf yang merepresentasikan 41 negara anggota juga mengambil langkah serupa.
Bahkan, Federasi Sepak Bola Amerika Serikat tak ketinggalan menunjukkan dukungan penuh terhadap sikap tegas Concacaf melalui kanal media sosial resmi mereka.
Bagi UEFA, turnamen sekelas Piala Dunia merupakan milik mutlak masyarakat sepak bola global, alih-alih sekadar aset komersial yang bebas diperjualbelikan.
Organisasi sepak bola tertinggi di Eropa itu juga melayangkan kritik tajam bahwa FIFA telah bersikap sepihak dan gagal melibatkan para pemangku kepentingan secara layak sebelum melempar proposal tersebut ke publik.
Polemik Dana Fantastis dan Proyeksi Bisnis FIFA
Sebelum badai penolakan ini memuncak, Gianni Infantino sempat mengumumkan rencana ambisius perihal penjualan sebagian saham FIFA Forward Enterprises yang ditargetkan mampu menghimpun pundi-pundi dana segar hingga menyentuh angka 20 miliar dolar AS.
Melalui skema ini, investor swasta nantinya bakal memegang kendali serta pengaruh signifikan terhadap aspek komersial hingga hak siar Piala Dunia.
Proposal bisnis tersebut diketahui mendapat dukungan penuh dari perusahaan investasi milik Joshua Kushner.
Sebagai pemanis, FIFA turut menawarkan iming-iming potensi pembagian dana bantuan lebih dari 80 juta dolar AS kepada masing-masing dari 211 federasi anggota hingga tahun 2037 mendatang apabila rencana korporatisasi itu disetujui.
Kendati demikian, UEFA menilai seluruh proses tersebut dijalankan tanpa adanya konsultasi memadai.
Organisasi sepak bola Eropa tersebut mengecam langkah FIFA sebagai bentuk nyata dari kegagalan kepemimpinan dalam merawat serta melindungi kepentingan jangka panjang sepak bola dunia.
Perlawanan ini rupanya kian menggelinding luas. Merujuk pada laporan ESPN, Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia, Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, turut melontarkan peringatan keras bahwa kebijakan sepihak yang diambil FIFA berpotensi merusak tatanan fondasi sepak bola antarbenua yang selama ini telah terbangun rapi.
Di tengah tekanan yang kian membara, FIFA telah menetapkan batas waktu hingga 19 September bagi seluruh federasi anggotanya untuk menyatakan sikap menerima atau menolak proposal kontroversial tersebut.
Agar rencana bisnis itu sah diberlakukan, regulasi mewajibkan adanya perolehan dukungan suara mayoritas dari total 211 anggota resmi FIFA.
Konflik terbuka ini diprediksi bakal turut menggoyang kursi kekuasaan serta memengaruhi masa depan kepemimpinan Gianni Infantino.
Di sisi lain, internal FIFA sendiri telah menjadwalkan tanggal 18 November sebagai tenggat akhir pendaftaran calon presiden baru, menjelang agenda pemungutan suara resmi yang bakal dilangsungkan pada Maret mendatang di Rabat, Maroko. (Redaksi)











