Fajar Baru Ekonomi ‘Bumi Nyiur Melambai’: Mengakselerasi Pertumbuhan Lokal Lewat Sektor Pertanian

Manadoberita.com, MANADO — Di tengah dinamika ekonomi global yang fluktuatif, Sulawesi Utara (Sulut) menemukan oase yang menopang ketahanan dan pertumbuhan ekonominya.

Bukan dari sektor pertambangan atau industri berat semata, melainkan dari akar rumput yang selama ini menjadi identitas agraris daerah: komoditi pertanian.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren positif yang signifikan.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan secara konsisten menjadi salah satu kontributor terbesar bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Utara.

Pada triwulan terakhir, sektor ini mencatatkan pertumbuhan year-on-year yang impresif, menjadi bukti bahwa strategi diversifikasi ekonomi daerah ke arah agro-industri berada di jalur yang tepat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa pertanian adalah tulang punggung ekonomi daerah yang memiliki multiplier effect (efek pengganda) yang luas.

“Sektor pertanian bukan hanya penyumbang angka PDRB, tetapi berkaitan langsung dengan hajat hidup sebagian besar masyarakat Sulawesi Utara. Penguatan di sektor ini otomatis meningkatkan daya beli petani dan menggerakkan sektor riil lainnya,” ujar Andry.

Tiga Pilar Utama Penopang Devisa Daerah

Keberhasilan sektor pertanian Sulut tidak terlepas dari kinerja prima sejumlah komoditi unggulan.

Kelapa (disebut juga ‘pohon kehidupan’), cengkeh, dan pala telah lama menjadi komoditas legendaris yang menempatkan Sulut di peta perdagangan global.

Namun, wajah pertanian Sulut kini semakin dinamis dengan bangkitnya komoditas hortikultura dan perkebunan baru.

1. Kelapa dan Turunannya: Lebih dari Sekadar Kopra

Transformasi besar tengah terjadi pada komoditi kelapa. Jika dulu ketergantungan hanya pada kopra, kini hilirisasi menjadi kunci.

Produk turunan seperti Virgin Coconut Oil (VCO), santan kelapa olahan, hingga arang tempurung, menembus pasar ekspor ke Eropa, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

Nilai tambah (value added) yang tercipta dari pengolahan ini melonjak drastis, memberikan devisa yang lebih besar bagi daerah.

2. Pala Siau: Emas Hijau dari Kepulauan

Kabupaten Kepulauan Sitaro, khususnya Pulau Siau, dikenal sebagai produsen pala berkualitas premium.

Pala Siau memiliki aroma dan karakteristik khas yang sangat diminati pasar internasional.

Pemerintah daerah setempat bersama instansi terkait terus melakukan pendampingan kepada petani untuk menjaga kualitas dan sertifikasi, memastikan komoditi ini tetap menjadi primadona ekspor.

3. Hortikultura: Cabai dan Bawang Merah Menjaga Inflasi

Di sisi ketahanan pangan lokal, komoditas seperti cabai rawit (rica) dan bawang merah menjadi penyumbang inflasi yang signifikan.

Berkat intervensi program “Mari Jo Bakar Rica” dan dukungan teknologi pertanian dari Dinas Pertanian Provinsi Sulut, produktivitas petani lokal meningkat.

Hal ini tidak hanya menjaga stabilitas harga di pasar tradisional Manado dan sekitarnya, tetapi juga mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Tantangan dan Arah Kebijakan Masa Depan

Kendati menunjukkan performa gemilang, sektor pertanian bukannya tanpa tantangan. Isu alih fungsi lahan, regenerasi petani muda, serta fluktuasi harga pasar global masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, menekankan komitmen pemerintah untuk terus memajukan sektor ini melalui berbagai kebijakan strategis.

“Kami fokus pada peningkatan infrastruktur pertanian, bantuan alsintan (alat dan mesin pertanian), serta kemudahan akses permodalan bagi petani melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) perbankan daerah. Tujuannya agar petani kita mandiri, sejahtera, dan produknya berdaya saing global,” tegas YSK.

Ke depan, integrasi antara pertanian dan pariwisata (agrotourism) juga mulai dikembangkan, menciptakan pengalaman wisata edukasi yang unik sekaligus mempromosikan produk lokal secara langsung kepada wisatawan.

Dengan kekayaan tanah vulkanis yang subur dan kebijakan yang tepat sasaran, sektor pertanian Sulawesi Utara tidak hanya sekadar bertahan, tetapi melaju kencang menjadi lokomotif utama yang menarik gerbong kesejahteraan bagi seluruh masyarakat ‘Bumi Nyiur Melambai’. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *