Festival Literasi Ditutup,Gubernur Yulius Dorong Perpustakaan Jadi Ruang Kreatif Anak Muda

Manadoberita – Manado. Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) dengan tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban” resmi ditutup di Museum Provinsi Sulawesi Utara, Minggu (4/10/26).

Kegiatan yang digagas Ketua Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Standius Bara Prima, tersebut menjadi ruang apresiasi terhadap literasi, budaya dan kreativitas generasi muda Sulut.

Penutupan festival diisi dengan berbagai pertunjukan seni dan hiburan. Di antaranya pertunjukan teater Isbima yang menampilkan karakter Maria Walanda Maramis dengan mengangkat semangat emansipasi perempuan, tarian nasional, stand up comedy, serta penampilan musik dari Aditya Sofian, Enda & Reza dan Coco Lense.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE menekankan pentingnya pengembangan perpustakaan agar lebih menarik dan ramah bagi generasi muda.

Gubernur Yulius Selvanus bersama Wakil Gubernur Victor Mailangkay, Ketua Umum PPLSU Standius Bara Prima

Menurut Yulius, perpustakaan tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat menyimpan dan membaca buku.

Lebih dari itu, perpustakaan harus dapat menjadi ruang berkumpul, berdiskusi, membangun jejaring persahabatan serta mengembangkan kreativitas anak muda.

Gubernur Yulius saat menikmati lukisan karya seni anak daerah. 

“Jangan hanya tumpuk buku. Buat perpustakaan menjadi tempat yang nyaman untuk anak-anak muda berkumpul, berdiskusi dan membangun persahabatan,” kata Yulius.

Ia pun meminta pemerintah daerah memberi perhatian terhadap pengembangan konsep perpustakaan yang modern dan nyaman. Menurutnya, dukungan anggaran diperlukan agar perpustakaan mampu menjadi ruang publik alternatif yang diminati generasi muda.

Yulius juga mendorong adanya kolaborasi antara museum, perpustakaan dan Dinas Pendidikan. Ketiga institusi tersebut dinilai memiliki peran yang saling berkaitan dalam membangun pengetahuan generasi muda, mulai dari sejarah, budaya, literasi hingga pendidikan.

Ia menegaskan bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Museum dan perpustakaan juga harus dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran di luar pendidikan formal.

“Dinas Pendidikan bukan hanya menyiapkan siswa di dalam kelas. Ada museum, perpustakaan, olahraga dan kegiatan lainnya yang juga menjadi bagian dari pendidikan,”tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *